Public Communication of Science & Technology
Internasional Symposium
22-23 November 2011
Simposium internasional yang diadakan pada tanggal 22-23
November 2011 merupakan kerjasama antara Kementrian Komunikasi &
Informatika (Kominfo), Badan
Pengkajian & Penerapan Teknologi (BPPT), Kementrian Riset & Teknologi
dengan Public Communication on Science & Technology (PCST). Penyelenggarakan
Simposium Internasional yang bertemakan “Science and Technology Communication
through Cyber Space”, mendiskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan
bagaimana mengkomunikasikan iptek dengan baik dan benar, menarik minat
masyarakat terhadap iptek, serta mengambil manfaat yang seoptimal mungkin dari
perkembangan teknologi TIK.
Target sasaran simposium adalah masyarakat luas, mulai dari akademisi, peneliti, pejabat publik, media, sampai dengan pendidik generasi muda. Selain itu simposium ini bertujuan untuk membangun komunikasi jejaring dan pertukaran informasi dengan anggota PCST lainnya yang tersebar di Asia.
Simposium ini sendiri
berlangsung di Auditorium BPPT, Lantai 3 Gedung II BPPT, Jl. M.H. Thamrin 8,
Jakarta Pusat, dengan pembicara yang berasal dari Indonesia, Australia, Korea
dan Malaysia. Sedangkan peserta symposium tersebut berasal dari para peneliti
dari berbagai instansi, para guru, dan juga mahasiswa.
Simposium tersebut dibuka
dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia lalu dilanjutkan dengan sambutan
dari Mentri Komunikasi dan Informasi yang dalam hal ini diwakili oleh Bapak
Asmi Mustopo. Selanjutnya dilanjutkan dengan pengarahan dari Mentri Riset dan
teknologi Bapak Gusti Muhammad Hatta yang mengatakan perlunya media untuk
menjadi penghubung antara dunia litbang dengan industri, pendidikan, bisnis,
dan masyarakat, serti mengajak untuk mengembangkan jaringan Teknologi Informasi
dengan bekerjasama dengan segala pihak. Sehubungan dengan Prof.Dr. Emil Salim
tidak datang tepat waktu maka pembicara dari PCST memulai terlebih dahulu
dengan memperkenalkan tentang profil dari PCST, dan apa yang telah dilakukan.
Selanjutnya diteruskan
dengan Prof.Dr. Emil Salim yang mengungkapkan bahwa untuk mengungkapkan suatu
penelitian dan pengembangan/ mengkomunikasikan sebuah ilmu pengetahuan
kemasyarakat luas dirasa sangat sulit, dan banyak juga yang terhenti begitu
saja. Mengingat Indonesia merupakan Negara kepulauan ini juga merupakan salah
satu factor sulitnya untuk menyebarluaskan suatu pengetahuan baru. Dan itu
merupakan tugas bersama untuk dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat
Indonesia.
Menurut Toss Gascoigne science communication sangatlah
penting, karena dengan itulah maka penelitian ilmiah yang telah dilakukan dapat
diungkapkan dan dibuat menjadi kenyataan. Oleh sebab itu permasalahan yang
menyebabkan hasil penelitian dan inovasi inovasi baru harus diatasi, seperti
tantangan yang harus dihadapi dikarenakan kurangnya memanfaatkan media untuk
memberitahukan hasil penelitian. Selain itu pemanfaatan dari penelitian ilmiah
yang kurang didukungan menjada penyebab sulitnya mengubah suatu penelitian
menjadi bentuk nyata.
Beliau juga menyatakan bahwa ide yang bagus tidak akan merguna
jika tidak ada yang mendengarkan, dan hasil penelitian tidak aka nada nilainya
dan hanya akan menjadi sebuah laporan saja jika tidak dikomunikasikan/ di
sebarkan ke masyarakat. Oleh karena itu pihak industri, dunia pendidikan,
media, dan masyarakat serta pemerintah bisa menjadi fasilitas bagi penelitian
tersebut untuk dapat dipakai dan bermanfaat.
PCST mengungkapkan pemanfaatan media baik media televisi,
radio, dan media cetak merupakan salah satu pilihan yang dapat dilakukan untuk
mengkomunikasikan hasil penelitian. Karena dengan media inilah hasil
penelitian, ilmu pengetahuan dapat cepat disebarkan, dan dengan kemasan yang
baik maka masyarakat dapat memanfaatkan dan menggunakannya. Oleh karena itu
para peneliti juga membutuhkan pelatihan untuk dapat bercerita tentang hasil
penelitian karena tidak semua peneliti merupakan seorang komunikator yang baik.
Pada kesempatan yang berbeda Prof. Sang Chun Lee Kepala ASEAN-3 Center Gifted in Science,
Kyungnam University of Korea mengungkapkan bahwa untuk mengatasi
permasalahan science communication sebaiknya dimulai dari dini. Dengan
mengajarkan generasi baru untuk berani mengungkapkan apa yang ada dipikirannya.
Untuk itu diperlukan lingkungan pendidikan yang baik dan interaktif agar merasa
nyaman dan percaya diri nantinya.
Dihari kedua simposium internasional kepala BPPT Dr. Marzan A.
Iskandar memperkenalkan kepada para peserta simposium profil dari BPPT yang
dipimpinnya. Selain itu juga mengemukakan hasil penelitian dan inovasi yang
telah dilakukan serta peran apa saja yang yang telah dilakukan oleh badan yang
dipimpinnya.
Pada kesempatan itu Ms Jenni Metcalfe dari PCST mengungkapkan
sebuah penelitian tentang pengaruh perubahan iklim terhadap hasil pertanian di
Australia. Untuk mendapatkan data yang tepat dan akurat dari para petani maka
diperlukan komunikasi yang baik, para peneliti harus mampu berinteraksi dengan
para petani sebagai sumber informasinya. Saat para peneliti akan memberikan
solusi dari permasalahan yang tengah dihadapi oleh para petani, mereka harus
mampu memberikan informasi yang dibutuhkan dengan cepat, mudah dan akurat, Dengan begitu barulah hasil
penelitian tersebut dapat dikatakan berguna.
Pada presentasi tentang kegunaan pelatihan science communication
untuk mahasiswa Prof. Nancy Longnecker dari university of Western Australia
memperkenalkan program yang telah dilakukan di universitas tempat dia berasal.
Tujuan dari program yang dilakukan tersebut adalah untuk meningkatkan kemampuan
berkomunikasi bagi para lulusan bidang ilmu pengetahuan (science),
selain itu untuk mengajarkan dan melatih para professional dalam bidang science
communicator. Dengan berlandaskan pemikiran bahwa para professional yang
bekerja untuk ilmu pengetahuan harus dapat berkomunikasi dengan baik maka
pelatihan di bidang science communication harus dilakukan.
Selanjutnya pembicara dari Petrosains Malaysia Daniel Loy Hui
Siang membicarakan tentang virtual science center yang dikembangkan oleh
Petrosains Malaysia. Dikesempatan ini Daniel mengungkapkan bahwa dengan ini
maka dapat dikembangkan komunitas yang membahas seputar ilmu pengetahuan.
Dengan mengembangkan pusat pengetahuan virtual bisa menjadi mediasi baru untuk
pengembangan pengetahuan tersebut. Dalam hal ini petrosains menerapkn empat
strategi antara lain resource base for visitor, touch point for online
community, platform for learning, dan internal culture.
Selain itu ada juga pembicara dari Kementrian Kominfo Dr.
Ashwin Sasongko tentang perlunya aturan dalam komunikasi publik bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam hal mempromosikannya secara aman di dunia
cyber. Karena jika ada kesalahan kecil saja dapat menimbulkan dampak yang
kurang baik, oleh karena ini perlu mengemas dengan baik. Pembicara berikutnya Dr.
Tusy Augustine Adibroto dari Dewan Riset Nasional memperkenalkan instansi tempatnya berasal dan
menjelaskan bahwa tugas dari instansinya adalah untuk membantu kementrian riset
dan teknologi untuk melakukan pengkajian dan memformulasi kebijakan dalam
lingkungan penelitian. Dalam kesempatan tersebut Dr. Tusy mempresentasikan
salah satu apa yang telah dilakukan oleh
Dewan Riset Nasional dalam hal bio teknologi.
Pada simposium internasional ini terungkap bahwa perlunya
komunikasi publik dalam bidang science dan teknologi, itu dikarenakan
sebuah pengetahuan baru akan dapat diterima dengan baik jika dikomunikasikan
dengan baik juga. Orang orang yang bekerja dibidang itu dapat menggunakan media
televisi, radio dan cetak serta membuat komunitas untuk memperkenalkan pengetahuan
baru, inovasi yang sedang dan telah dikembangkan. Selain itu pelatihan dalam
bidang komunikasi publik juga diperlukan untuk mempermudah mereka melakukan
tugasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar